Sabtu, 11 Oktober 2008

SEBUAH LABEL BAHASA

By Sahala Napitupulu

Hidup ternyata bukan sekedar soal menghirup udara. Bukan sekedar soal detak jantung. Bukan pula soal aliran darah dalam tubuh. Hidup ternyata soal kita berbahasa. Banyak orang tahu itu, tapi sedikit yang perduli. Ya, bahasa yang kita gunakan setiap hari seharusnya jauh lebih hebat dari soal menghirup udara dan detak jantung kita. Sebab seluruh pertaruhan iman kita, impian dan masa depan hidup kita, terletak pada label bahasa yang satu ini. Jika Anda pikir saya ini mengada-ada, Anda keliru. Jika Anda kira saya bercanda atau melebih-lebihkan, Anda juga keliru. Dan jika Anda merasa tulisan saya ini akan berbicara tentang bahasa dengan struktur bahasa, fonem atau soal imbuhannya, Anda lebih keliru lagi. Karena yang ingin saya sampaikan disini sama sekali tak berhubungan dengan soal pelajaran berbahasa dengan tata bahasanya. Yang ingin saya share pada Anda disini tentang sebuah bahasa yang sangat bersahaja.

Tetapi sebagai penghantar betapa saya ingin mengajak Anda untuk melihat kehebatan soal berbahasa ini. Dengan melihat kembali catatan Alkitab tentang peristiwa Menara Babel. Pada permulaan sejarah, Alkitab memberitahukan kita, manusia di bumi ini masih punya satu bahasa dan satu logatnya. Karena satu bahasanya, satu logatnya, jadi manusia itu mudah berkomunikasi. Tidak hanya itu. Karena satu bahasanya, sesama manusia itu mudah bekerja sama. Itu dibuktikan dengan rencana anak-anak manusia itu ingin mendirikan Menara Babel, sebuah kota yang puncaknya sampai ke langit. Sebuah proyek ambisius. Mega proyek pembangunan Menara Babel waktu itu sedang dikerjakan. Lalu turunlah Tuhan untuk melihat kota dan menara yang didirikan anak-anak manusia itu. Maka kata Tuhan :“ Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka. Mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana “ (Kejadian 11: 5-6). Kata sederhananya, apa saja yang direncanakan dan dikerjakan oleh manusia itu, bakal ditanggung sukses bila didasari oleh satu bahasa.

Waktu itu proyek ambisius tersebut nyaris selesai. Tapi proyek itu diluar rencana Allah. Allah menggagalkan proyek ambisius mereka. Caranya ? Mereka dibuat tidak lagi satu bahasa. Tiba-tiba muncul banyak bahasa diantara anak-anak manusia itu. Alhasil, terjadilah kekacauan berbahasa diantara mereka. Kekacauan yang terjadi karena banyak salah pengertian diantara mereka. Terjadi banyak ketidakmengertian diantara mereka. Kemudian terjadi kebingungan, kecurigaan dan seterusnya. Akhirnya, mereka tahu diantara tak bisa lagi bekerja sama karena bahasa mereka sekarang tidak lagi bersahaja. Dari situlah manusia itu kemudian diserakkan Tuhan ke seluruh bumi. Jadi, dimulai dari satu bahasa dan diakhiri dengan ragam bahasa, hasilnya adalah sebuah kekacauan.

Sekarang saya ingin mengajak Anda untuk melihat seorang anak Tuhan (sebutkanlah itu nama Anda). Hidupnya berkenan dimata Tuhan. Dia bersahaja karena bahasanya jauh melampaui kata-kata. Sebab tiap kali ia melihat ada orang terjatuh, maka kakinya bergegas berlari dan tangannya terulur untuk menolong. Tiap kali ia melihat ada orang kelaparan, ia pun tak pelit untuk berbagi makanannya. Tiap kali ia melihat ada orang kesusahan dan kemalangan lainya, sungguh hatinya tak pernah merasa sejahtera.Ya, anak Tuhan ini seperti orang Samaria yang murah hati itu (Lukas 10 : 25-37). Orang Samaria ini sungguh tak tega hatinya melihat ada korban perampokan di jalanan. Dia pergi kepada si korban yang sekarat itu. Dia membalut luka-lukanya. Dia membawanya kepenginapan dan membayarkan biayanya. Sementara mereka yang disebut imam dan lewi (barisan para pelayan Tuhan) justru tidak berbuat sesuatu apapun.

Demikianlah anak Tuhan ini (sekali lagi sebutkanlah itu nama Anda) melewati hari-hari hidupnya dengan caranya yang sangat bersahaja. Dia tidak fasih berkata-kata. Tetapi, dia fasih berbuat. Jika menurut Anda ini penting, tentu hal ini perlu Anda ajarkan juga kepada orang lain. Persoalannya ialah ketika saya ingin menutup tulisan ini. Saya teramat kesulitan untuk memberinya sebuah label tertulis. Sebab bila ia tidak berlabel tentu sulit untuk diidentifikasi, sukar diterangkan dan diajarkan. Label bahasa apakah yang lebih tepat untuk merumuskan seluruh perbuatan baik anak Tuhan itu ? Bagaimana menurut Anda dan berikut alasannya.

4 komentar:

pakdokter mengatakan...

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya(s0lide0gl0ria.wordpress.com), tulisan pak Sahala juga mantap. Terus berkarya pak. Kiranya blog ini juga dapat menjadikan berkat dan memuliakan nama Tuhan Yesus, bagi yang membaca.

Sahala Napitupulu mengatakan...

@ pak dokter in Canada
Thanks so much pak dokter.Keep on fire to serve our lord Christ Yesus.JBU.

Riris Ernaeni mengatakan...

Pemikiran yang bersahaja, tapi maknanya dalaam sekali. Memang sebagai murid Kristus sudah seharusnya menyatakan kasih bukan hanya lewat kata-kata,tapi tindakan yang nyata.
Oh iya, terima kasih untuk support yang bapak berikan di blog saya. Tuhan Yesus memberkati.

Sahala Napitupulu mengatakan...

@ bu riris ernaeni

Thanks bu riris. Saya juga mendapat banyak inspirasi dari tulisan-tulisan ibu. Keep on writing dan berkaryalah t'rus didalam Tuhan Yesus. JB2.