Kamis, 13 November 2008

PARA BLOGGER JUGA PENGINJIL

By Sahala Napitupulu

Kitab Matius ditutup dengan sebuah amanat agung dari Tuhan Yesus Kristus. Amanat itu untuk memberitakan InjilNya dan menjadikan semua bangsa menjadi muridNya. Injil itu harus diberitakan dari manusia kepada manusia tetapi untuk Tuhan. Media dan metodenya boleh saja berbeda. Tetapi, tujuannya jauh lebih penting yaitu untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dari kematian dan kuasa neraka.


Tidak ada yang tidak mungkin bagi pekerjaan Roh Kudus. Keselamatan hidup kekal itu bisa terjadi kepada siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Yang penting disini mereka percaya kepada Yesus. Mereka percaya bahwa Yesus adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yohanes 14 : 6), dan keselamatan itu tidak ada didalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab dibawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya manusia dapat diselamatkan (Kisah para rasul 4 : 12).


Injil Yesus harus diberitakan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dari kematian dan kuasa neraka. Murid-murid Tuhan yang mula-mula sudah melakukannya. Tiap generasi kemudian melanjutkannya. Lalu, orang-orang Kristen sebelum mengenal media Online sudah mengambil perannya. Mereka memakai media cetak untuk memberitakan Yesus. Lalu, media film dan televisi juga digunakan untuk memberitakan Injil Yesus. Kini media Online merebak dan ini adalah bagian kita sekarang memberitakan Injil melalui dunia maya. Para Blogger Kristen, orang-orang yang bersentuhan dengan dunia internet, mengambil perannya disini.

Dunia internet, seperti Anda ketahui, telah banyak membuat orang jatuh kedalam kubangan dosa. Setiap hari, beribu-ribu orang masuk kedalam perangkap si iblis melalui situs-situs porno. Tua, muda bahkan anak-anak dengan mudah mengaksesnya. Melalui internet, para agen iblis itu juga menyebarluaskan ajaran-ajaran mereka. Ajaran-ajaran yang melawan kebenaran tentunya. Banyak jiwa telah meregang nyawa dan akan mati didalam dosa karena mengakses Website atau Situs mereka. Jadi, tidakkah Anda punya belas kasihan terhadap jiwa-jiwa yang meregang nyawa menuju kebinasaan itu ?

Anda bisa mengambil peran sekarang. Beritakanlah terus Injil Yesus dalam dunia internet melalui Blog Anda. Demi untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang sedang sekarat itu. Demi untuk kerajaanNya dan kemuliaan nama Tuhan Yesus. Blog Anda bisa menjadi perpanjangan tangan kasihNya. Blog Anda bisa menjadi perpanjangan langkah anugrahNya. Memberitakan Injil di dunia maya adalah sama dengan penginjilan di dunia nyata. Sekali lagi, karena tujuan itu tadi, yaitu untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dari kematian dan kuasa neraka.

Sahabat para Blogger kristen, pandanglah ini sebuah kesempatan yang indah. Berdoalah, kiranya Tuhan mengurapi--saya sengaja memakai kata “ mengurapi “ seperti yang sering kita sebutkan dalam ibadah di dunia nyata--Website atau Blog Anda. Jika ada jiwa-jiwa diselamatkan oleh karena mereka mengakses Blog Anda, saya percaya keselamatan mereka itu nyata dan bukan maya. Saya percaya itu bisa terjadi karena Roh Kudus lah yang menuntun orang itu supaya menemukan Website atau Blog Anda. Karena didalam Blog Anda ada Firman Allah, ada Injil Keselamatan yang diberitakan. Jangan pernah membatasi kuasa Roh Kudus untuk melakukan karyaNya. Sekali lagi, Roh Kudus bisa memakai Website Anda sebagai alatNya supaya orang bertobat dan percaya kepada Yesus. Dari percaya baru kemudian jiwa mereka diselamatkan.

“ Sebab, bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia ? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, kalau tidak ada yang memberitakanNya ? (Roma 10 : 14) “

Tentu Anda tahu, jika ada satu orang saja bertobat dan jiwanya diselamatkan, para malaikat disorga akan bersorak-sorai. Dan Anda pun patut bersuka cita karena Roh Kudus telah memakai Blog Anda, sehingga ada orang yang bertobat dan diselamatkan. Jadi, selama masih ada kesempatan, marilah kita lakukan apa yang menjadi bagian kita dan Roh Kudus akan melakukan apa yang menjadi bagiannya. Anda setuju ?


Sabtu, 11 Oktober 2008

SEBUAH LABEL BAHASA

By Sahala Napitupulu

Hidup ternyata bukan sekedar soal menghirup udara. Bukan sekedar soal detak jantung. Bukan pula soal aliran darah dalam tubuh. Hidup ternyata soal kita berbahasa. Banyak orang tahu itu, tapi sedikit yang perduli. Ya, bahasa yang kita gunakan setiap hari seharusnya jauh lebih hebat dari soal menghirup udara dan detak jantung kita. Sebab seluruh pertaruhan iman kita, impian dan masa depan hidup kita, terletak pada label bahasa yang satu ini. Jika Anda pikir saya ini mengada-ada, Anda keliru. Jika Anda kira saya bercanda atau melebih-lebihkan, Anda juga keliru. Dan jika Anda merasa tulisan saya ini akan berbicara tentang bahasa dengan struktur bahasa, fonem atau soal imbuhannya, Anda lebih keliru lagi. Karena yang ingin saya sampaikan disini sama sekali tak berhubungan dengan soal pelajaran berbahasa dengan tata bahasanya. Yang ingin saya share pada Anda disini tentang sebuah bahasa yang sangat bersahaja.

Tetapi sebagai penghantar betapa saya ingin mengajak Anda untuk melihat kehebatan soal berbahasa ini. Dengan melihat kembali catatan Alkitab tentang peristiwa Menara Babel. Pada permulaan sejarah, Alkitab memberitahukan kita, manusia di bumi ini masih punya satu bahasa dan satu logatnya. Karena satu bahasanya, satu logatnya, jadi manusia itu mudah berkomunikasi. Tidak hanya itu. Karena satu bahasanya, sesama manusia itu mudah bekerja sama. Itu dibuktikan dengan rencana anak-anak manusia itu ingin mendirikan Menara Babel, sebuah kota yang puncaknya sampai ke langit. Sebuah proyek ambisius. Mega proyek pembangunan Menara Babel waktu itu sedang dikerjakan. Lalu turunlah Tuhan untuk melihat kota dan menara yang didirikan anak-anak manusia itu. Maka kata Tuhan :“ Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka. Mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana “ (Kejadian 11: 5-6). Kata sederhananya, apa saja yang direncanakan dan dikerjakan oleh manusia itu, bakal ditanggung sukses bila didasari oleh satu bahasa.

Waktu itu proyek ambisius tersebut nyaris selesai. Tapi proyek itu diluar rencana Allah. Allah menggagalkan proyek ambisius mereka. Caranya ? Mereka dibuat tidak lagi satu bahasa. Tiba-tiba muncul banyak bahasa diantara anak-anak manusia itu. Alhasil, terjadilah kekacauan berbahasa diantara mereka. Kekacauan yang terjadi karena banyak salah pengertian diantara mereka. Terjadi banyak ketidakmengertian diantara mereka. Kemudian terjadi kebingungan, kecurigaan dan seterusnya. Akhirnya, mereka tahu diantara tak bisa lagi bekerja sama karena bahasa mereka sekarang tidak lagi bersahaja. Dari situlah manusia itu kemudian diserakkan Tuhan ke seluruh bumi. Jadi, dimulai dari satu bahasa dan diakhiri dengan ragam bahasa, hasilnya adalah sebuah kekacauan.

Sekarang saya ingin mengajak Anda untuk melihat seorang anak Tuhan (sebutkanlah itu nama Anda). Hidupnya berkenan dimata Tuhan. Dia bersahaja karena bahasanya jauh melampaui kata-kata. Sebab tiap kali ia melihat ada orang terjatuh, maka kakinya bergegas berlari dan tangannya terulur untuk menolong. Tiap kali ia melihat ada orang kelaparan, ia pun tak pelit untuk berbagi makanannya. Tiap kali ia melihat ada orang kesusahan dan kemalangan lainya, sungguh hatinya tak pernah merasa sejahtera.Ya, anak Tuhan ini seperti orang Samaria yang murah hati itu (Lukas 10 : 25-37). Orang Samaria ini sungguh tak tega hatinya melihat ada korban perampokan di jalanan. Dia pergi kepada si korban yang sekarat itu. Dia membalut luka-lukanya. Dia membawanya kepenginapan dan membayarkan biayanya. Sementara mereka yang disebut imam dan lewi (barisan para pelayan Tuhan) justru tidak berbuat sesuatu apapun.

Demikianlah anak Tuhan ini (sekali lagi sebutkanlah itu nama Anda) melewati hari-hari hidupnya dengan caranya yang sangat bersahaja. Dia tidak fasih berkata-kata. Tetapi, dia fasih berbuat. Jika menurut Anda ini penting, tentu hal ini perlu Anda ajarkan juga kepada orang lain. Persoalannya ialah ketika saya ingin menutup tulisan ini. Saya teramat kesulitan untuk memberinya sebuah label tertulis. Sebab bila ia tidak berlabel tentu sulit untuk diidentifikasi, sukar diterangkan dan diajarkan. Label bahasa apakah yang lebih tepat untuk merumuskan seluruh perbuatan baik anak Tuhan itu ? Bagaimana menurut Anda dan berikut alasannya.

Senin, 22 September 2008

Peperangan Rohani

By Sahala Napitupulu.

Menarik untuk diperhatikan. Sejak orang telah bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat hidupnya, orang tersebut telah menjadi ahli waris kerajaan sorga. Tetapi, sepanjang orang itu masih hidup di dalam dunia ini, sadar atau tidak, orang itu telah berada dalam situasi peperangan rohani. Dan iblislah yang menjadi lawannya.

Dengan segala cara, dengan segala tipu daya iblis akan menyerang orang-orang percaya. Oleh karena itulah dalam kehidupan kekristenan ada peperangan rohani setiap saat. Bicara peperangan rohani ini hanya ada 2 kemungkinan. Menang atau Kalah. Maaf, tidak ada yang namanya win-win solution alias sama-sama menang.

Memang sejak Anda dan saya menjadi orang percaya, Alkitab katakan kita disebut umat pemenang. Tetapi, itu sifatnya sementara dan belum merupakan kemenangan sempurna. Terbukti dikemudian hari banyak orang percaya yang kalah dalam peperangan rohani ini. Mereka tidak mencapai garis akhir dalam perjuangan iman mereka kepada Yesus. Mereka meninggalkan jalan Tuhan dan kembali kepada cara hidup mereka yang lama, yaitu cara hidup yang sia-sia.

Kemenangan yang akan kita raih haruslah kemenangan yang sempurna. Kemenangan iman sampai pada akhirnya. Perhatikanlah surat-surat Yesus yang dikirim kepada 7 jemaat di dalam Kitab Wahyu. Surat-surat Yesus tersebut ditutup dengan kalimat “ barangsiapa menang”. Kata Yesus : barang siapa menang dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan…barangsiapa menang ia tidak menderita apa-apa oleh kematian yang kedua…barangsiapa menang kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa...barangsiapa menang ia akan Kujadikan sokoguru didalam bait suci Allah…barangsiapa menang ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku…barangsiapa menang ia akan menerima mahkota kehidupan.

Dalam peperangan rohani ini iblislah yang menjadi lawan kita. Namun, banyak orang mengabaikan kekuatan si iblis dan menganggap enteng padanya. Tapi akhirnya merekalah yang dikalahkan. Surat Petrus mendiskripsikan iblis itu seperti singa yang berjalan keliling dan mencari orang yang dapat ditelannya ( I Pet.5 : 8 ). Ia dikatakan seperti singa, raja hutan, mahluk buas dan ganas. Dan oleh Yesus didiskripsikan seperti pencuri yang datang hanya untuk mencuri, membunuh dan membinasakan (Yoh.10: 10 )

Tuhan tahu betul, iblis yang menjadi lawan kita bukanlah kelas ringan. Tuhan tahu betul, Anda dan saya tak akan mungkin menang melawan iblis jika kita hanya mengandalkan kekuatan manusia. Itulah sebabnya, Tuhan memperlengkapi kita untuk melawan si iblis dengan senjata-senjata rohani, seperti yang tertulis dalam kitab Efesus 6 : 10- 20. Ada 7 jenis perlengkapan senjata rohani untuk Anda dan saya, yaitu : Berikat pinggang kebenaran, Berbaju zirahkan keadilan, Berkasut kerelaan untuk memberitakan Injil, Perisai iman, Ketopong keselamatan, Pedang roh yaitu firman Allah dan Berdoa didalam roh.

Dari 7 perlengkapan senjata rohani tersebut, perhatikanlah ada senjata untuk pertahanan dan ada juga senjata untuk menyerang. Allah telah memfasilitasi kita dengan senjata-senjata rohani tersebut. Tinggal soalnya sekarang, apakah orang percaya itu mau memakainya atau tidak ? Kalau senjata itu tidak dipergunakan, ya pasti tidak berarti apa-apa. Tetapi begitulah nyatanya, banyak orang mengabaikan perlengkapan senjata Allah tersebut. Dan akhirnya merekalah yang dikalahkam didalam peperangan mereka melawan si iblis. Anda mengerti sekarang ? Kiranya demikian.

Jumat, 05 September 2008

Menjadi Surat Kristus

By Sahala Napitupulu


Melalui bacaan surat rasul Paulus kepada umat Tuhan di Filipi, marilah kita share sejenak tentang topik Menjadi Surat Kristus. Dalam Filipi 2 : 1-11, Paulus memberi nasehat supaya hidup ke kristenan kita berpadanan dengan Injil Kristus. Mengapa itu penting ? Jawabannya, karena orang yang hidup berpadanan dengan Injil Kristus lah yang dapat menjadi mimbar Kristus. Dan orang yang bisa menjadi mimbar Kristus lah yang dapat menjadi surat Kristus. Tentu bukan surat yang buram. Bukan pula surat yang samar-samar. Tetapi surat Kristus yang bisa dibaca oleh semua orang (maksud saya dibaca orang mulai hari senin sampai hari minggu, didalam gereja maupun diluar gereja tetap jelas).

Sudahkah cara hidup ke kristenan Anda menjadi mimbar Kristus ? Bersediakah Anda untuk menjadi surat Kristus yang dapat dibaca semua orang ? Sebelum Anda menjawabnya, marilah kita lebih dulu bersepakat bahwa yang menjadi model keteladanan kita dalam hal ini adalah Yesus sendiri. Sebab tidaklah mungkin kita bisa berpadanan dengan InjilNya dan menjadi surat Kristus, kalau bukan Kristus yang menjadi teladan kita. Anda setuju ? Silahkan Anda berhenti sebentar membaca tulisan ini guna memikirkannya. Oke, Anda rupanya telah setuju karena Anda telah melanjutkan bacaan ini.

Nah, sehubungan dengan keteladanan Yesus, selanjutnya marilah kita lihat fakta-fakta kehidupan Yesus seperti yang diuraikan surat Paulus diatas. Pertama, walaupun setara dengan Allah, tetapi Yesus tidak menganggap hal itu sebagai keuntungan yang harus dipertahankan. Yesus kita tahu adalah Allah sendiri. Dia raja diatas segala raja. Namun, lihatlah, demi untuk menyelamatkan manusia, menyelamatkan Anda dan saya, Dia rela memberikan diriNya untuk digantung di kayu salib. Alkitab katakan, saat Yesus digantung di kayu salib, Dia seperti domba yang dibawa ketempat pembantaian. Tak ada lagi semarak padaNya. Bahkan seketika itu Yesus diposisikan sebagai orang terkutuk dan lebih rendah dari malaikat-malaikat yang melayaniNya. Tetapi semua itu Dia tanggung untuk merebut Anda dan saya dari kematian dan kuasa neraka.

Namun, seberapa banyak Anda lihat dalam kehidupan ini, ketika orang memiliki suatu jabatan kekuasaan, entah di pemerintahan, entah di perusahaan bahkan di dalam gereja sekalipun, mereka mempertahankan kedudukan itu mati-matian. Mengapa ? Karena jabatan itu dianggap sebagai keuntungan yang harus dipertahankan. Bahkan mereka pun sudi melakukan cara-cara yang melawan kebenaran. Mereka melakukan apa saja, sekalipun tidak lagi berpadanan dengan Injil Kristus.

Kedua, fakta yang kita lihat Yesus menghampakan dirinya. Yesus mengambil rupa seorang hamba. Seharusnya sebagai raja diatas segala raja, Dialah yang harus dilayani. Tetapi dengan mengambil rupa seorang hamba maka Yesus dapat melayani manusia. Alkitab menceritakan Yesus pernah mengumpulkan murid-muridNya. Apa yang Yesus lakukan ? Dia menanggalkan jubah kebesaranNya. Yesus mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkan kain itu pada pinggangNya. Murid-murid sampai disitu belum mengerti. Lalu Yesus menuangkan air kedalam sebuah baskom. Murid-murid sampai disitu belum juga mengerti, untuk apa semua itu ?

Namun sesaat kemudian, Yesus mulai membasuh kaki mereka satu per satu. Lalu dengan kain yang dipinggangnya Yesus menyeka dan membersihkan kaki mereka. Jika hati Anda tak tersentuh dengan kejadian ini, cobalah Anda membayangkan kejadian itu seperti Anda melihat seorang tukang semir sepatu yang menyemir sepatu orang langsung dari kakinya. Hampir seperti itulah yang Yesus lakukan pada saat itu. Betul-betul seperti seorang hamba yang melayani tuannya !

Setelah Yesus membasuh kaki para muridNya, satu per satu, Dia kemudian berkata begini : Mengertikah kamu apa yang telah kuperbuat kepadamu ? Kamu menyebut Aku guru dan Tuhan dan katamu itu tepat. Akulah guru dan Tuhan. Jadi jika Aku membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu. Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepadamu, supaya kamu juga berbuat sama, seperti yang telah kuperbuat kepadamu (Yoh.13 : 12-15)

Jadi, bila Yesus yang Raja dan Tuhan mau merendahkan diri untuk melayani manusia, betapa pula kita manusia, betapa pula kita sebagai murid-muridNya. Tetapi Anda pasti tahu, perkara ini tidaklah mudah. Dibutuhkan keberanian yang luar biasa, penghancuran ego sentris dan penghampaan diri untuk bisa mengikuti teladan Yesus. Itu sebabnya kita seringkali gagal menjadi surat Kristus, karena kita tidak bisa menghancurkan ego sentries kita. Kita sering menganggap diri kita lebih benar dari yang lain. Kita sering menganggap diri kita lebih utama dari yang lain. Kita sering menganggap gereja kita lebih besar dari yang lain. Kita sering menganggap pelayanan kita lebih hebat dari yang lain. Namun saya berharap Anda, maupun pelayanan Anda tidak termasuk disitu.

Jika orang-orang duniawi saja bisa saling menghargai, bisa saling melengkapi dan bersinergi, betapa pula kita yang disebut anak-anak Allah atau anggota tubuh Kristus. Bacalah surat Paulus kepada Jemaat di Korintus, dimana Paulus menguraikan tentang anggota-anggota tubuh Kristus. Mata tidaklah lebih penting dari telinga. Tangan tidaklah lebih hebat dari kaki. Mulut tidaklah lebih utama dari hidung. Dan seterusnya.

Ikutilah teladan Yesus, maka Anda akan menjadi mimbar Kristus dan menjadi surat Kristus yang dapat dibaca semua orang. Bagaimana orang dapat membaca Anda sebagai surat Kristus ? Anda tahu jawabannya : melalui perbuatan, ucapan, cara hidup, sikap Anda dan seterusnya.

Pesan tulisan ini sederhana saja. Jangan bersembunyi dibalik jabatan kekuasaan. Jangan berlindung dibalik jubah kebesaran. Jika Anda mau menjadi hamba Kristus dan menyebut diri sebagai murid Kristus. Sebab hamba tidak melebihi tuannya dan murid pun tidak melebihi gurunya. Siapa bertelinga hendaklah mendengar apa yang dikatan roh. Anda punya telinga ? ****

Kamis, 28 Agustus 2008

Cinta Dan Kerinduan Sang Mempelai


By Sahala Napitupulu


Saya percaya dan tidak saya ragukan Yesus menginginkan hubungan jemaat dengan Dia semakin hari semakin mendalam. Semakin hari semakin cinta dan indah adanya. Alasannya ? Sebab gereja Tuhan, orang-orang percaya itu merupakan mempelai wanitanya Kristus. Setiap orang percaya pada Yesus telah dipertunangkan kepadaNya dan Dia lah sang mempelai prianya.

Sebagaimana suatu pertunangan tentu punya suatu ikatan. Dan ikatan yang paling kuat antara kedua mempelai, tak ada yang lain kecuali cinta ! Panji-panjinya cinta ! Itu sebabnya raja Salomo dalam Kidung Agung 8 : 6-7 mengatakan betapa cinta itu kuat seperti maut. Air yang banyak pun tak dapat memadamkan api cinta, sungai-sungai pun tak dapat menghanyutkannya karena nyala cinta itu adalah nyala api Tuhan !

Sekarang bagaimana cinta Anda pada Tuhan Yesus ? Apa kualitas cinta Anda yang dapat Anda persembahkan kepada sang mempelai pria itu ? Sekiranya ada thermometer cinta, Anda dapat mengukur panas dinginnya cinta Anda pada Tuhan. Tapia alat thermometer cinta itu tidak ada, betul ? Namun ada indikator dan umum dikenal orang. Kualitas cinta seseorang pada kekasihnya dapat diukur dari kesetiaan dan kerinduannya. Semakin besar cintanya semakin besar kesetiaannya ! Semakin besar cintanya semakin besar kerinduannya !

Setiap orang yang pernah atau sedang jatuh cinta tidaklah sulit memahami berdasarkan pengalamannya itu. Orang yang sungguh mencintai kekasihnya, keinginan untuk hidup bersama kekasih pujaan hati pasti begitu besar. Bahkan bila sehari saja dia tak melihat wajah sang kekasih, maka hatinya akan disayat rindu. Ia akan berupaya untuk mendapatkan kekasih hatinya itu.

Baca dan renungkanlah kisah cinta Yakub untuk mendapatkan Rahel menjadi istrinya. Meskipun pamannya Laban telah menipunya dengan memberikan putrinya Lea, tetapi cinta Yakub telah tertambat hanya pada Rahel. Untuk mendapatkan Rahel kembali Yakub harus bekerja 7 tahun lagi pada pamannya itu. Dan baru setelah melewati 7 tahun kedua, Laban akhirnya menyerahkan putrinya Rahel pada Yakub alias Israel itu. Dalam rentang waktu 14 tahun, tetapi Alkitab katakan waktu yang bertahun-tahun itu dianggap Yakub seperti beberapa hari saja ! Itulah kekuatan cinta !

Perkenankan saya ingin berbagi cerita pada Anda. Cerita tentang kerinduan seorang wanita terhadap kekasihnya. Tersebutlah seorang wanita yang telah memiliki kekasih dan bahkan tidak lama lagi mereka akan melangsungkan pesta perkawinan. Mereka saling mencintai. Biasanya setiap malam kekasih hatinya itu datang padanya lalu mereka saling merajut cinta. Mereka saling memanggil kekasihnya “ merpatiku “ untuk mengingatkan mereka pada kesetiaan merpati pada pasangan hidupnya.

Demikianlah dari hari ke hari, mereka menikmati cinta itu. Namun pada suatu malam, kekasihnya itu tidak datang sebagaimana biasanya. Lama wanita ini sudah menunggunya. Ia mencoba tidur tapi hatinya terus terbangun.Setiap waktu yang berlalu ia didera dan disayat rindu. Apa yang harus dia lakukan ? Perempuan itu keluar rumah. Dia mendatangi para tetangganya, mengetuk-ngetuk pintu mereka dan memanggil-manggil merpatinya. Hingga sepanjang malam itu rambutnya telah dipenuhi tetesan embun.

Cerita diatas memang saya dramatisasi dari kitab Kidung Agung Salomo tentang kerinduan mempelai perempuan pada kekasihnya. Kidung Agung 5 :2 mengatakan : Aku tidur tetapi hatiku bangun. Dengarlah kekasihku mengetuk, bukalah pintu dinda manisku, merpatiku, idam-idamanku, karena kepalaku penuh embun dan rambutku penuh tetesan embun malam.

Perempuan it uterus mencari kekasihnya. Memangil-manggilnya. Baru ketika fajar merekah kekasihnya datang. Bisa Anda bayangkan betapa luapan hati perempuan itu bersuka cita sebab kekasihnya telah kembali. Siapakah dia kekasih wanita itu ?

“ Siapakah yang muncul laksana fajar merekah, indah bagaikan bulan purnama, bercahaya bagaikan surya, dahsyat seperti bala tentara dengan panji-panjinya “ ( Kidung Agung 6 : 10 )

Siapakah dia menurut Anda ? Ya, Dial ah sang mempelai pria itu. Dial ah Yesus yang akan datang untuk menjemput mempelai wanitanya. Yesus yang akan datang dengan tiupan sangkakala disertai para malaikatNya. Dial ah yang akan datang itu. Memang kita tidak tahu kapan hari itu tiba. Tetapi cepat atau lambat sang mempelai pria itu pasti datang untuk menjemput sang mempelai wanitanya, lalu tinggal bersamanya di sorga yang kekal. Seberapa besar cinta dan kerinduan Anda padaNya ? Maranata ! ****

Rabu, 20 Agustus 2008

Yesus Penolong Kita

By sahala Napitupulu

Anda bisa bayangkan hidup macam apa yang akan kita jalani kalau tidak ada yang namanya harapan ? Menjalani hidup tanpa pengharapan, itu sama saja dengan mati tidak hidup pun tidak. Namun hidup dengan Yesus, Anda dan saya bisa berkata : hari esok masih ada harapan yang lebih baik dan lebih indah. Namun hidup bersama Yesus bukan berarti tidak ada persoalan.

Kitab Injil menceritakan kepada kita, sekalipun murid-murid itu ada dalam satu perahu bersama Yesus, tetapi perahu mereka toh kena hantam angin badai juga. Perahu mereka oleng ke kiri dan ke kanan. Bahkan air laut sudah masuk kedalam perahu. Murid-murid ketakutan. Tetapi Anda tahu, ketakutan mereka ternyata tidak menyelesaikan masalah. Mereka panik. Tetapi Anda tahu, kepanikan mereka ternyata tidak menyelesaikan masalah. Mereka khawatir. Tetapi kekahawatiran juga tidak menyelesaikan masalah. Masalahnya baru teratasi ketika mereka menyerahkan persoalan itu kepada Yesus. Mereka membangunkan Dia dari tidurnya. Yesus menghardik angin ribut itu dan angin pun reda hingga mereka bisa meneruskan perjalanan sampai ke seberang.

Bagaimana dengan perahu kehidupan Anda sekarang ? Jika saat Anda membaca tulisan ini, kehidupan Anda lagi kacau balau oleh sebab berbagai persoalan melilit Anda, saran saya berserulah pada Yesus. Serahkan persoalan Anda padaNya. Bangunkanlah Yesus dalam imanmu dan berdoalah, karena didalam Dia ada pengharapan, selalu ada jalan keluar untuk setiap masalah. Ingatlah, Yesus sudah berkata : Marilah datang kepadaKu engkau yang letih lesu dan berbeban berat, sebab Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Tetapi bila Anda telah mendapat kelegaan (baca pertolongan dari Yesus) muliakanlah Dia, datanglah kembali kepadaNya untuk mengucap syukur atas kebaikanNya. Mengapa ? Karena sudah menjadi kebiasaan orang banyak Yesus diingat ketika mereka dikepung oleh banyak masalah. Tetapi ketika mereka sudah keluar dari masalah, Yesus segera mereka lupakan. Kitab Injil mencatat ada 10 orang yang berpenyakit kusta datang kepada Yesus dan minta ditahirkan. Tetapi setelah mereka telah ditahirkan nyatanya hanya 1 orang yang ingat kembali kepada Yesus dan mengucap syukur kepadaNya. Mana sembilan orang lainya ? Mereka telah melupakan Yesus. Saya harap Anda tidak demikian ***

Kamis, 14 Agustus 2008

Percaya Pada Proses

By Sahala Napitupulu.

Ada satu cerita yang sangat saya suka bila saya berbicara tentang potensi diri manusia. Ceritanya sangat sederhana. Ada orang melihat sebuah gunung yang sangat tinggi dan ingin mecoba mendakinya. Da ingin merasakan bagaimana rasanya berdiri diatas puncak gunung.

Kemudian ia mempersiapkan pendakiannya. Dia membeli tali dan perlengkapan lainnya. Tiba harinya orang ini mulai mendaki gunung tersebut. Namun apa yang terjadi ? Jalan pendakian itu ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Medan pendakian yang dia hadapi begitu sulit sementara stamina pun mulai menurun. Akhirnya, ia merasa tak dapat meneruskan pendakiannya.

Orang itupun kembali pulang dan berkata kepada gunung itu : “ Oke, hari ini aku kalah. Namun lihat beberapa bulan lagi aku akan kembali dan menaklukkanmu. Aku akan berdiri diatas puncakmu dan menancapkan bendera kemenanganku. “

Tepat beberapa bulan kemudian. Seperti yang dikatakan, dia datang kembali dan sekali lagi mendaki gunung tersebut. Jalan yang berbatu-batu terjal itu, selangkah demi selangkah dengan suatu perjuangan yang keras, akhinya dapat ia lewati. Ia tiba dipuncak gunung tersebut lalu menancapkan bendera kemenangannya.

Anda lihat ? Dikemudian hari orang itu ternyata bisa menaklukkan gunung yang sangat tinggi itu. Anda tahu sebabnya ? Jawabannya sangat sederhana : karena gunung itu tak pernah bertambah tingginya. Tetapi kemampuan manusia, potensi diri yang dimliki manusia bisa semakin tinggi dan bahkan mengalahkan tingginya gunung itu. Caranya ? Dengan belajar, dengan berlatih, manusia bisa mengembangkan potensi dirinya, mengembangkan talenta yang ada padanya. Bagaimana dengan Anda ? Sudahkah Anda mengembangkan talenta yang Tuhan sudah berikan ? 5 talenta menghasilkan 5 talenta dan 3 talenta menghasilkan 3 talenta, asal kita mau belajar mengembangkan potensi diri dan bukannya menguburkan talenta itu. Bukankah itu yang Yesus ajarkan dalam perumpamaan tentang talenta itu ?

Yesus kita percaya adalah Allah yang menjadi manusia. Yesus sebagai manusia juga mengembangkan kecerdasannya melalui proses pembelajaran. Bacalah injil Lukas fatsal 2, Anda akan ketemukan cerita saat Yesus berumur 12 tahun masuk kedalam bait Allah. Dia duduk mendengarkan apa yang dikatakan para imam. Dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan berdebat dengan mereka. Bukankah itu proses pembelajaran ? “ Dan semua oran yang mendengarkan Dia sangat heran akan kecerdasanNya dan segala jawab yang diberikanNya, “ Dan tampaklah hasil dari proses pembelajaran Yesus itu kemudian disimpulkan begini. “ Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatnya dan besarnya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia “ (Luk.2 : 52)

Tetapi banyak fakta membuktikan. Kini kecenderungan orang sekarang tampaknya terlalu berorientasi pada hasil yang ingin dicapai atau Out-put, sementara mereka mengabaikan proses pembelajarannya atau In-putnya. Pada hal proses itu penting, sebab itulah nanti yang akan menghasilkan Out-put-nya. Tanyakanlah pada banyak orang, apakah mereka mau sukses ? Jawabannya, pasti mereka mau sukses. Apa mau menjadi juara ? Mereka pasti ingin menjadi juara. Apa mau yang terbaik ? Mereka pasti mau yang terbaik. Namun ketika diminta supaya mereka belajar dan berlatih sebagaimana latihan seorang juara, ternyata mereka tak dapat. Pada hal, itula harga yang harus mereka bayar. Hukumnya : In-put akan menghasilkan Out-put. Apa yang ditabur itu yang akan dituai.

Jadi jangan abaikan proses itu. Kita sudah melihat Yesus sendiri sebelum memulai pelayananya, Dia juga belajar mengembangkan potensi diriNya, mengembangkan potensi keillahianNya. Sehingga ketika tiba waktunya Yesus sudah siap untuk memulai tugas pelayananNya seperti yang dikehendaki Bapa di sorga.

Ada In-put ada Out-put. Memindahkan gunung adalah Out-put, tetapi memiliki iman sebesar biji sesawi adalah In-put-nya. Wanita yang menderita pendarahan selama 12 tahun itu sembuh, kesembuhan itu adalah Out-put. Namun iman yang berkata : “ asal kujamah saja jubahNya aku sembuh “ itu adalah In-put-nya. Panglima Naaman menjadi tahir dari penyakit kustanya, itu adalah Out-put. Tetapi mencelupkan diri 7 kali di sungai Yordan adalah In-putnya.

Dalam hal ini saya juga teringat akan surat Paulus kepada Timotius. Nasehat Paulus pada Timotius mengatakan , supaya dia jangan mengangkat Penatua jemaat atau hamba Tuhan dari orang yang baru bertobat. Mengapa ? Paulus memberi alasan, agar orang itu jangan menjadi sombong dan kena hukuman iblis. Kalau orang baru bertobat sudah bersaksi kesana kemari, berkotbah kemana-mana, pada hal imannya belum kuat, firman Tuhan belum berakar dalam dirinya, maka ia bisa menjadi sombong dan merasa sudah dipakai Tuhan. Yang benar, dia harus belajar dulu, menjalani proses pembelajaran dan berlatih sampai tiba waktunya dia sudah siap.

Lihatlah bagaimana Daud sebelum tampil mengalahkan Goliat. Saya bisa membayangkan betapa umat Israel bersorak-sorai serta terkagum-kagum melihat robohnya raksasa Goliat ditangan Daud yang kecil. Namun, tidak banyak umat Israel itu tahu, sebelum Daud tampil maju menghadapi Goliat, Allah sudah lebih dulu memproses Daud. Perhatikanlah apa kata Daud kepada raja Saul sebelum ia tampil menantang Goliat. Kata Daud : “ Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba. Apabila datang singa atau beruang yang hendak menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku menghajarnya dan membunuhnya “ (I Samuel 17 : 34-35). Jadi disitulah proses Daud. Sebelum dia tampil menghadapi raksasa, Daud sudah lebih dulu belajar mengalahkan singa atau beruang.

Bagaimana dengan Anda ? Bagaimana dengan pelayanan Anda ? Anda merasa pelayanan Anda begitu kecil, jemaat Anda tidak seberapa, nama Anda tidak popler, Anda tidak perlu berkecil hati. Kelak Tuhan juga akan memakai Anda dalam perkara-perkara yang besar asal Anda setia dalam perkara-perkara yang kecil. Biarkanlah Allah memproses Anda. Jangan abaikan pelatihan dan pembelajaran untuk pertumbuhan rohani Anda, seperti kata firmanNya : “ Latihlah dirimu beribadah. Sebab latihan badani itu terbatas gunanya. Tetapi latihan rohani itu berguna, baik untuk hidup di dunia ini maupun untuk hidup yang akan datang “ (I Tim.4 : 7-8). Sudahkah Anda memberi waktu dan perhatian untuk itu ? ***